Minggu, 24 Juni 2012

IDEOLOGI MUHAMMADIYAH DALAM PERFEKTIF GLOBAL


MAKALAH
IDEOLOGI MUHAMMADIYAH
DALAM PERFEKTIF GLOBAL






Ukhti Aulia Rakhmah
NIA: 12.001.1214










IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
CABANG ABDUL ROZAQ FAKHRUDDIN


                                                                                                                                                      I.            PENDAHULUAN
Muhammadiyah, seperti kita tahu adalah salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Peran Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan Islam yang berideologi “Islam yang berkemajuan” tidak hanya berkecimpung di kalangan kader-kadernya saja, tetapi juga di kancah Nasinal bahkan global.
Ideology mempunyai keheterogenan pengertian. John Storey mengikhtisarkan heterogenitas konsep ideologi secara padat dalam bukunya yang berjudul “An Introduction Guide to Cultural Theory and Popular Culture”. Dalam buku tersebut John Storey mengulas lima konsep Ideologi yaitu :
 Pertama. Ideologi merupakan  pelembagaan seperangkat gagasan, nilai, pandangan hidup secara sistematis yang kemudian diartikulasikan oleh kelompok tertentu. Jadi ideologi merupakan ide-ide dasar atau basis visi dan misi serta motivasi sadar yang menggerakkan seseorang dalam kelompok tertentu. Ideologi juga bisa diartikan sebagai cara nalar dalam menfsirkan dirinya,manusia, sejarah dan dunia serta bagaimana posisi dirinya dalam sejarah tersebut.
 Kedua. Ideologi merupakan penopengan terhadap realitas. Disini ideologi digambarkan sebagai alat untuk menyeleksi teks-teks serta praktik-praktik budaya tertentu, untuk menghadirkan citra-citra atau repsentasi-representasi mengenai realitas yang telah diistorsi, diselewengkan untuk mempertahankan status quo. Inilah yang disebut oleh Marx dalam German Ideology  sebagai “kesadaran palsu”. Jadi dalam konsep yang kedua, ideology adalah alat untuk menjaga kepentingan-kepentingan kuasa dari kelas penguasa atau borjuis dan untuk membuat agar kelas proletar atau yang ditindas menjadi betah untuk didominasi dan dihegemoni. Dengan cara apa ? dengan cara reifikasi menurut George Luckas, reifikasi adalah proses membuat tatanan sosial tertentu memperoleh citra yang ternaturalkan, at given dan tidak bisa diganggu gugat lagi. 
Ketiga. Konsep ideologi yang erat kaitannya dengan hingar bingar, hiruk pikuk dan pesona Pop Culture. Ini terkait dengan konsep kedua dari ideologi sebelumnya. Cuman yang membedakan jika ideology dalam konsep yang kedua bersangkut paut dengan pandangan filosofis atau keagamaan tertentu yang sifatnya cenderung “dalam”, maka dalam konsep yang ketiga ini berkaitan dengan sesuatu yang sifatnya “dangkal”, bahkan artifisial. Ideologi disini diartikan sebagai sesutau yang bisa menarik, dan membujuk hasrat pemirsa, dihadapan TV, majalah, papan iklan ataupun etalase-etalase barang dagangan di mall-mall besar.
 Keempat. Konsep ideologi yang bukan hanya berkaitan dengan kesadaran manusia, yang melahirkan “kesadaran palsu”, tetapi ideology juga sesuatu yang berkaitan dengan tindakan dan proses-proses material serta birokrasi. Gagasan ini dikemukakan oleh salah seorang pemikir Perancis yang bernama Louis Althusser dalam bukunya yang berjudul Ideology and Ideological apparatus. Menurut Althusser ideology merasuk hingga ke ritual-ritual keseharian kita, semisal ritual sekolah yang tidak partisipatif, ritual birokrasi kita yang seperti mesin. Dan ritual-ritual tersebut berfungsi untuk menjinakkan dan menundukkan manusia di hadapan kepentingan kelas sosial tertentu.
 Kelima. Konsep ideologi yang dikemukakan oleh semiolog Perancis, Rolan Barthes. Ideologi (mitos dalam istilah Barthes) adalah sesuatu yang mengarahkan kita untuk membatasi konotasi atau makna secara hegemonik. Menyingkirkan konotasi-konotasi sebelumnya dan menawarkan konotasi-konotasi baru secara hegemonik.
Dari kelima konsep ideology di atas, konsep ideology yang sesuai dengan konsep ideology Muhammadiyah merupakan konsep ideologi yang pertama. Ideologi Muhammadiyah adalah seperngkat gagasan yang telah terlembagakan, motivasi dasar, perangkat nalar yang digunakan Muhammadiyah dalam memandang dirinya, umat manusia, sejarah dan dunia, serta bagaimana Muhammadiyah memposisikan dirinya di tengah proses-proses yang tiada henti.


                                                                                                                                                                              II.            ISI
IDEOLOGI MUHAMMADIYAH DALAM PERFEKTIF GLOBAL

Keterhubungan konsep ideology yang pertama menurut John Storey di atas dengan Ideologi Muhammadiyah, haruslah disertai dengan catatan. Karena salah satu karakter dari ideology yang merupakan pelembagaan gagasan-gagasan tertentu adalah totalitas dan statis, dan jika totalitas dan ke-statis-an menjangkiti Ideologi Muhammadiyah, maka akan mengalami kontradiksi diri, sebab Islam Berkamajuan adalah Islam yang mendorong “…hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia…” dan “…memayungi kemajemukan…”. Totalitas adalah oposisi bagi kemajemukan dan hidup statis adalah oposisi bagi kedinamisan, sebagaiman yang bathil adalah oposisi bagi yang haq. Inilah yang disebut oleh Ali Syariati sebagai “Ideologi Terbuka” sebagai oposisi bagi “ideology tertutup. Ideologi terbuka adalah ideology yang mengutamakan kedinamisan dan kemajemukan dalam perjuangannya menciptakan tata kehidupan yang lebih adil, egaliter dan lebih baik.
Muhammadiyah memiliki prinsip pemikiran Purifikasi dan Dinamisasi. Proporsional ketika membedakan antara masalah agama (aqidah dan ibadah) dan masalah dunia (muamalah). Purifikasi dan Dinamisasi merupakan substansialisasi dan kontekstualisasi ajaran Islam terhadap situasi kontemporer.
Purifikasi itu sendiri secara harfiyah berarti pemurnian. Pemurnian itu dikenakan pada bidang aqidah dan ibadah. Muhammadiyah sepanjang sejarahnya telah melaksanakan pemurnian itu.  Muhammadiyah melakukan purifikasi terhadap hal-hal yang memang dilarang oleh agama karena berkaitan langsung dengan syirik, misalnya pemujaan terhadap kuburan dan orang yang ada di dalamnya. Meminta berkah dari orang yang sudah meninggal dan menjadikannya sebagai wasilah dalam berdoa kepada Allah adalah perbuatan syirik. Perilaku ini bertentangan dengan ayat-ayat yang mengatakan bahwa Allah itu dekat, Allah mendengarkan doa hambanya, Allah maha mendengar dan maha tahu. Allah mengecam orang-orang musyrik yang menjadikan patung orang yang sudah wafat itu sebagai perantara (wasilah) kepada Allah. Mitos-mitos yang berkembang menjadi mitologi, yang oleh Muhammad Arkoun dipadankan dengan khurafat, mengandung kepercayaan terhadp eksistensi kekuasaan di samping Tuhan. Mitos-mitos itu harus dibersihkan karena mengganggu aqidah.
Menurut Muhammadiyah, purifikasi juga diberlakukan pada persoalan ibadah. Dalam banyak hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW mewanti-wanti agar umat Islam tidak melakukan perbuatan bid’ah karena bid’ah itu adalah kesesatan dan kesesatan itu tempatnya di neraka. Persoalan bid’ah dalam ibadah telah menjadi perbincangan yang lama sekali dalam sejarah Islam. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa sebagian ulama menyatakan bahwa ada dua macam bid’ah, yakni dlalalah dan hasanah. Bid’ah dlalalah dikenakan pada persoalan ibadah (agama), sedangkan bid’ah hasanah dikenakan pada persoalan non-ibadah (dunyawiyah). Di samping itu ada kelompok lain yang menyatakan bahwa pada persoalan non-ibadah itu tidak masuk dalam kategori bid’ah. Dua kelompok tersebut hanya berbeda dalam istilah saja, sedang pendapat esensialnya adalah sama.
Kemudian, Dinamisasi. Di luar aqidah dan ibadah, lapangan kehidupan manusia jauh lebih luas. Islam memberikan peluang yang sangat terbuka bagi ijtihad agar kehidupan manusia menjadi dinamis. Dengan keterbukaan itu, umat Islam ditantang untuk membangun kehidupan sesuai dengan tugasnya sebagai khalifah fi al-ardl. Dinamika sangat diperlukan untuk mencapai ihsan. Nabi Muhammad SAW menyatakan kewajiban umat Islam untuk ber-ihsan dalam segala hal, “innallaha katab al-ihsan ‘ala kulli syai’ ….” Makna ihsan sesungguhnya adalah berbuat sesuatu sebaik mungkin, dengan cara yang terbaik dan memberikan manfaat yang optimal. Tuntutan ber-ihsan akan menjadikan kehidupan manusia dinamis untuk menuju kesempurnaan hidup.
Hadis Nabi Muhammad SAW yang sangat populer menyatakan tingginya nilai ihsan dalam beribadah, “u’budillah kannaka tarah.” Tetapi, seperti dinyatakan oleh hadis di atas,  terdapat wilayah ihsan yang sangat luas. Pertama, kita harus ber-ihsan dalam kehidupan sosial, yakni hubungan antarmanusia. Ber-ihsan ini tidak mungkin bisa dicapai hanya dengan modal moral individual, tetapi harus dengan bangunan sosial yang membentuk struktur masyarakat. Maka di sinilah terletak kehidupan yang dinamis,  yaitu proses tajdid sosial. Membangun peradaban utama adalah sasaran ber-ihsan itu. Dengan inspirasi al-Qur’an umat Islam harus mengerahkan segala tenaga dan pikiran untuk selalu berinovasi dalam rangka mencapai kesempurnaan hidup. Proses inilah yang disebut sebagai dinamika peradaban.
Al-Qur’an mendorong kita agar terus mendinamisasi kehidupan ini. Bagi umat Islam itu tidak mungkin dicapai tanpa mendinamisasi ajaran Islam. Artinya, ajaran Islam jangan menjadikan kita terpasung dan terbelakang; jangan malah menghambat kemajuan kita. Di sinilah perlunya reinterpretasi yang terus-menerus agar pemamahan kita bermakna bagi kemanusiaan universal, dan prilaku keagamaan kita mampu memberikan warna bagi bangunan peradaban. Melalui pemahaman seperti ini, akan terjadi pencepatan dinamisasi pemahaman agama yang menjadi penopang peradaban utama. 
Contoh contoh dinamisasi ideology Muhammadiyah di kehidupan yang global ini sudah ada sejak masa K.H Ahmad Dahlan, yaitu saat K.H Ahmad dahlan memakai biola dalam mengajar mengaji, pemakaian meja dan kursi di madrasah yang beliau dirikan. Dan contoh contoh dinamisasi di zaman sekarang antara lain, dakwah seluler, blog-blog dakwah di dunia maya, penggunaan alqur’an digital, Maktabah Syamilah, penggunaan telepon seluler untuk berkomunikasi dan msih banyak lagi.


                                                                                                                                                             III.            PENUTUP
Ideology Muhammadiyah dalam perspektif global cenderung menjurus ke prinsip pemikiran Dinamisasi. Yakni penyesuaian muamalah dengan perkembangan zaman. Islam dan Muhammadiyah tidak mengekang ummatnya dalam keterpurukan dan keterbelakangan. Selama hal tersebut tidak menyinggung masalah ibadah dan aqidah, dinamisasi bukan sesuatu yang jelek.


Referensi:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar